Malioboro Menggelora

3266 0
cewek cakep cantik

cersex69 – Jam di pergelangan tangan kananku menunjukkan angka 5, matahari sudah mulai bersiap pulang ke peraduannya. Dan aku, masih berdiri di tepi jalan raya Magelang – Jogya menunggu bus patas yang lewat. Meski aku agak pesimis akan mendapatkan apa yang aku harap. Sudah hampir 1 jam aku berdiri di depan mall Arthos, menunggu bus patas lewat, namun nihil. Sudah seminggu aku menginap di hotel mewah ini, ada beberapa tender yang harus aku menangkan untuk perusahaanku. Dan di penghujung minggu ini, aku berniat liburan ke Jogya, sekedar jalan jalan menikmati suasana malioboro dan sekitarnya.

Aku mayang, 27tahun, staff accounting di sebuah perusahaan kontraktor di Semarang. Tubuhku chubby, dengan tinggi 165cm dan bb 75kg, kulit sawo matang. Yang membuatku paling pede adalah payudaraku yang membusung, 38b, seringkali menjadi jarahan mata nakal para eksekutifku atau klien. Jujur sih, aku senang saat mata mereka mengerling nakal melihat ke dadaku, kubayangkan apa yang mereka bayangkan pada tubuhku. Hmmmhhh….. Membayangkannya saja membuatku libidoku naik. Hampir saja beberapa kali aku kehilangan normaku dan menerima ajakan indehoy mereka. Namun aku masih berusaha menjaga profesionalitasku dalam pekerjaan.

Hari ini pun aku menolak ajakan mereka untuk pulang ke Semarang bersama mobil mereka. Hanya berduaan dalam mobil? Apa yang bisa terjadi? Ngeri aku bayanginnya kalau akhirnya aku dibelokkan ke hotel oleh salah satu rekan atau bosku itu. Bukan… bukan karena aku gak doyan penis, tapi resiko yang harus aku tanggung jika berita aku “bisa dipake” menyebar ke seluruh karyawan, habislah mukaku menanggung malu.

Dan… akhirnya, terdamparlah aku disini. Di tepi jalan yang penuh debu, menunggu bus yang tak kunjung tiba. Bosan menunggu, aku berjalan ke arah minimarket, niat hati ingin membeli minuman sekedar pendingin tenggorokan. Kering kali rasanya aku tak minum satu jam an ini. Kutarik koper berodaku ke arah minimarket, tak jauh dari tempatku menunggu bus. Kira2 15 meter sebelum sampai minimarket, perhatianku tertuju pada seorang lelaki dengan bodi proporsional, tinggi 170an cm, bb sekitar 65kg, kulit pucat dan memakai jaket kulit. Dia sedang memakai sarung tangan di samping sepeda motor vixion merahnya. Kuperhatikan ada dua helm yang bersandar di motornya. Entah helm siapa.

Tak kupedulikan yang lain, aku iseng menghampirinya.

“Maaf mas, hendak menuju kemana? apakah sendirian?” tanyaku to the poin. Jujur aku paling susah basa basi.

“Ke Jogya mbak. Saya sendirian. Ada apa ya?” jawabnya seraya bertanya padaku. Tidak dihentikan kegiatannya merapikan sarung tangannya.

“Saya kemalaman mas, boleh nebeng sampai Jogya gak mas? Dari tadi gak ada bus patas lewat..” ucapku dengan jujur. Mata lelaki itu membelalak sedikit, seolah tak percaya
.

“saya naik motor lo mbak.. gakpapa? Jogya dari sini masih sekitar satu jam an lagi. Mbak yakin?” tanyanya memastikan keinginanku untuk berboncengan dengannya.
aku mengangguk keras, menandakan keyakinanku untuk membonceng.

“saya mau jalan jalan ke malioboro mas, tadinya mau naik patas, tapi ternyata gak datang2. Gak mau saya naik bus ekonomi, trauma saya mas. Pernah kecopetan” jawabku menyakinkannya.

“Ya sudah…. mbak bisa pakai helm adik saya, kebetulan saya baru saja menjenguk adik saya di ponpes, saya kira adik saya mau ikut pulang sama saya ke Jogya, ternyata tidak boleh pulang sana ustadzahnya” katanya sambil menyodorkan helm putih pink kepadaku.
Aku tersenyum menyadari bahwa dia bersedia memboncengku sampai jogya. Dan akhirnya aku terbebas dari rasa menunggu bus patas yang entah kapan datangnya. Selepas dia memakai masker dan helm, dia menaruh koperku di depannya, dan menungguku selesai memakai helmku. Tiba tiba dia menjulurkan tangan kanannya, mengajakku bersalaman.

“Arya” katanya seraya menjabat tanganku. Dia menggenggam tanganku erat, terlihat kokoh dengan pergelangan tangan yang kuat. Aku menjadi penasaran apakah otot penisnya sekuat otot tangannya?
Otakmu mulai mesum…

“Mayang” jawabku sambil tersenyum sembari mencoba menggodanya. Kuamati badannya sangat atletis, minimal cowok ini rajin berolahraga. Otot dadanya terbentuk sempurna. Wajah orientalnya telah menawan hatiku sejak pertama kali aku menatapnya.

Aku beranjak duduk di belakangnya. Aku memakai celana bahan dengan setelah kemeja lengan panjang berwarna ungu muda yang sangat pas membalut tubuhku. Untungnya aku memakai tas kerja yang bisa dijadikan tas punggung, sehingga aku bisa dengan leluasa memeluk tubuhnya. Eh, duduk memboncengnya.
..

Sengaja aku rapatkan posisi tubuhku dengan tubuhnya. Kusandarkan payudaraku ke punggungnya, kedua pahaku menempel sempurna di kedua paha belakangnya. Kupegang kedua sisi pinggangnya. Sedikit berlemak, tapi hal itu membuatku menjadi horny.

Arya mulai memacu vixionnya ke jalanan. Aku menikmati perjalanan kami dengan semakin mendekatkan badanku ke badannya. Kudekatkan mekiku ke pantatnya, meski sebenarnya aku berharap itu bagian depannya. Ada jagoannya yang membuatku penasaran.

“Mau dianter ke mana May?” tanyanya tanpa embel embel mbak lagi.

“Ke Ibis Malioboro saja mas. Saya dah booking kamar disana” ucapku. Karena laju kendaraan yang kencang, kami harus mendekatkan bibir dan telinga kami agar jelas terdengar. Dan hal itu membuat payudaraku semakin ‘menekan’ di punggungnya. Duh gemesnya, pengen banget kucium itu pipi, jarak bibirku dengan pipinya kadang hanya 5cm saja saat kami bicara. Duhh… bisa gak tahan kalao kayak gini caranya.

“Gak ada saudara atau teman di Jogya?” tanyanya lagi dan membuat mekiku semakin menegang karena tekanan punggungnya di payudaraku, nafasku semakin memburu. Entah dia menyadarinya atau tidak.

“Ada sih. Tapi aku belum sempat menghubungi mereka. besok saja kalau sudah fix mau main” ucapku
.

Perjalanan selanjutnya kami lebih banyak diam, aku mengeratkan pegangan tanganku diperutnya yang rata, menikmati payudaraku yang menempel di punggungnya dan mekiku yang makin menegang. Terkadang aku usil mengelus perutnya, atau menyandarkan pipiku di punggungnya. Jaket kulitnya menjadi penghalang hangatnya tubuh kami berdua.

Dari dekapanku, aku merasakan hal yang sama terjadi padanya. Nafasnya mulai naik turun memburu.. aku hampir tak bisa menahan tanganku untuk mengelus penisnya. Memastikan apakah penisnya berdiri atau tidak.

Aku masih menahan diri untuk tidak mengelus penisnya. Meski mekiku sudah tegang terasa. Apa yang ada dalam pikirannya kalau aku langsung meremas penisnya di jalanan seperti ini? Kutahan tahankan tanganku agar tak berbuat yang aneh aneh.
Meski sejujurnya aku sudah gak tahan pengen ngeremes.

Perjalanan satu jam menjadi tak terasa saat tubuh kami saling memburu.
Sebentar lagi kami sampai di Ibis hotel. Langit senja sudah semakin merah, sekelompok awan gelap mulai mengikuti kami. Sepanjang perjalanan memasuki kota aku hanya memohon semoga hujan berbaik hati menunggu sampai aku sampai di tujuan baru turun menyapa bumi.

Doaku ternyata hanya sampai pada stasiun Tugu, karena selepas itu, hujan mulai pelan2 menyapa kami. Rintik rintik hujan satu demi satu hinggap di kemeja ungu mudaku. Dingin mulai merayap ke ragaku. Aku semakin erat memeluk tubuh kekar di depanku, sementara dirinya fokus mempercepat laju motor agar kami segera sampai di Ibis. Sebentar lagi… ya.. sebentar lagi kami sampai. Gedungnya sudah terlihat di ujung mataku.

Tidak ada Komentar on "Malioboro Menggelora"

Leave a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *