Dina dan Pak Joko

72235 1
cewek asia gokil 3

Niatnya sih cerbung, tapi ini cerita cuma satu scene aja, yaudah deh mending taruh di cerpan. Sembari punya ide maka ane lampiaskan ide ane ini.

Tester dulu yaa para suhu sekalian……..
Baru ane lanjutin nih…

Alkisah, hidup sepasang suami-istri yang kehidupannya amat romantis pasca menikah di sebuah rumah yang terbilang cukup bagus di kota metropolitan. Sang suami menyayangi istri, begitu juga sebaliknya sang istri amat menyayangi suaminya. Si suami yang ganteng namanya Anton umur 30 tahun dan istrinya yang cantik ini namanya Dina umurnya 29 tahun. Mereka kebetulan belum dikaruniai seorang anak karena anton belum siap menjadi seorang ayah. Sementara dina, jauh-jauh hari dia sudah menantikan kehadiran seorang anak. Namun, karena sang suami, apa boleh buat wanita itu. Kehidupan keluarga kecil ini pada awalnya tampak bahagia, namun berubah semenjak hadirnya seseorang yang tak pernah mereka duga-duga.


Dina dan Anton]

Ya, saat itu dina baru saja pulang dari supermarket. Ia habis membeli kebutuhan-kebutuhan untuk dimasak di rumah. Namun, di tengah perjalanan pulang ia bertemu seorang penjaga pintu kereta yang merasa ia kenali. Penjaga pintu kereta yang merupakan seorang pria itu sedang tengok kanan-kiri, mengawasi kalau-kalau kereta datang. Pria tersebut tampak tua, kurus, kekar, dan kulitnya agak hitam. Mungkin, akibat terlalu lama terjemur di sinar matahari. Dina mencoba menyapa, mencari tahu, siapa tahu orang itu kenal dirinya. Dan, ternyata ketika baru ingin menyapa, dina langsung ingat bahwa itu wali kelasnya dulu ketika kelas 3 SMA, namanya pak joko.
Pak joko berumur 57 tahun. Ia mantan guru sekolah swasta tempat dina sekolah dulu. Namun, ia harus berhenti bekerja sejak sekolahnya tutup karena yayasan tidak menghendaki sekolah itu aktif lagi. Sejak saat itu pak joko menganggur. Dia ingin mencoba mengajar di sekolah negeri, namun ujian untuk guru negeri ia tidak pernah lulus. Sedangkan, untuk guru swasta, tidak ada yang mau menerimanya karena sekolah tempat ia mengajar akreditasinya rendah. Ia sebetulnya mau mengajar di sebuah tempat les atau bimbingan belajar, tetapi ia malu karena merasa usianya yang tidak muda lagi. Di sisi lain, kebanyakan di tempat les atau bimbel diisi oleh guru-guru yang relatif usianya masih muda. Penderitaan menganggurnya menjadi bertambah semenjak sang istri meninggal dunia karena sakit. Ia menjadi hidup seorang diri karena kebetulan sang istril mandul jadi ia tidak memiliki anak. Beruntung, pak joko tidak hidup sebatang kara. Selama menganggur, pak joko banyak bergentung dengan sanak keluarga dekatnya. Ya, paling-paling bantuan yang dapat diberikan adalah menghidupi pak joko makan dan minum. Akan tetapi, suatu ketika, akhirnya rezeki datang juga. Kali ini ia mendapat tawaran menjaga palang pintu kereta di dekat daerah rumahnya. Tawaran itu datang dari salah seorang temannya yang bekerja di perusahaan jasa perkeretaapian. Karena mencari pekerjaan susah, pak joko tidak pikir-pikir lagi. Langsung saja pekerjaan itu diterimanya. Tugas pak joko ialah memandu kendaraan yang akan melintasi rel, termasuk juga memandu orang-orang yang akan menyeberang rel. Bayarannya ya cukup lumayan untuk melepaskan ketergantungannya kepada sanak keluarga. Ia merasa lega karena sekarang dia memiliki pekerjaan walau pekerjaan itu sedikit merepotkannya.


Dina ketemu lagi dengan Wali Kelasnya, Pak Joko

Pada awalnya, dina menyapa dengan langsung menerka-nerka bahwa penjaga pintu kereta itu merupakan mantan wali kelasnya. Pak Joko meski tahu, tapi dia tidak ingat kalau dina pernah menjadi menjadi muridnya, termasuk siswi di kelas yang dia pimpin. Dina mencoba membantu pak joko mengingat-ngingat. Namun, sekeras apapun usaha dina, lelaki paruh baya itu tetap tidak ingat juga.

“bapak, pak joko kan? wali kelas saya dulu di SMA Semprot?” tanya dina penuh rasa ingin tahu menatap pak joko

“Iya, betul saya pernah mengajar di SMA Semprot. Tapi, saya tidak ingat kalau kamu pernah jadi murid saya” ucap pak joko pikun akibat terlalu lama menganggur

“Masa sih bapak gak inget. Saya dina loh pak, siswi yang paling cantik di kelas bapak. Inget kan?” dina berusaha mengingatkan.

“Maaf, tapi saya bener gak inget sama sekali siapa kamu. Yang saya kenal itu si Yudi, dia ketua kelasnya” pak joko masih tak ingat sambil menggaruk kepala

“Iya pak, si yudi itu ketua kelas kita. Saya kan sekretarisnya. Masa bapak lupa sih? Padahal, saya kan selalu lapor absen kelas ke bapak” Lagi-lagi dina berusaha keras mengingatkan

“Aduhh maaf yaa. Saya bener-bener gak inget” balas pak joko meminta maaf

Pada akhirnya dina pasrah juga. Ia tak bisa berbuat apa-apa ketika si penjaga kereta yang dikenalinya sebagai wali kelasnya dulu betul-betul tidak ingat siapa dirinya. Namun, dia tidak begitu saja kecewa. Ia malah ingin berbuat baik kepada gurunya itu. Dia juga penasaran dan bertanya-tanya bagaimana bisa pak joko, gurunya yang dulu mengajar matematika, nasibnya berubah menjadi penjaga pintu kereta. Tentu, ia ingin dengar banyak cerita dari pak joko, termasuk tentang perkembangan sekolahnya sekarang. Untuk itu, dina mengajak pak joko ke rumahnya. Dina tidak pikir-pikir kalau profesi pak joko jika ditinggalkan begitu saja akan mengakibatkan banyak nyawa melayang. Ia cuek saja. Ia tetap menawarkan pak joko main ke rumahnya yang kebetulan sang suami sedang bekerja. Di lain hal, pak joko juga tidak menolak ajakan wanita yang mengaku pernah menjadi muridnya. Ia menerima tawaran itu dengan senang hati. Masalah siapa yang menjaga pintu kereta kalau dia pergi, ternyata dia mempunyai seorang kawan yang rela dibayar untuk mengganti posisinya.
Berjalanlah pak joko dan dina bersamaan. Dina duluan, pak joko mengikuti dari belakang. Tidak ada obrolan di antara keduanya sembari berjalan.Di dalam benak pak joko, ia khawatir rumah dina bakal jauh karena Itu berarti dia akan kembali berjalan jauh lagi ke tempat ia bekerja. Namun, itu tidak benar. Baru berpikiran begitu, pak joko sudah sampai di rumah dina. Kemudian sesampai di rumahnya, Dina tak sungkan-sungkan mempersilahkan pak joko masuk. Gurunya itu ia bimbing ke ruang tamu yang terdapat dua buah kursi, yang satu kursi panjang dan satunya lagi kursi untuk satu orang. Ada pula meja di sana.

“Pak joko, duduk dulu pak. Saya mau ambilkan minuman untuk bapak” tersenyum dina mempersilahkan gurunya

“Aduh dina, kamu gak usah repot-repot. Bapak jadi gak enak nih kalau udah tahu begini” timpal pak joko

“Udah biarin pak, bapak juga kan kelihatannya daritadi kejemur terus tuh di bawah sinar matahari, pastinya haus. Apa salahnya juga sih seorang murid berbuat baik kepada gurunya” ujar dina kepada pak joko.

Pak Joko duduk di ruang tamu. Ia menyandarkan tubuhnya sejenak. Ia mengambil nafas dalam-dalam karena kebetulan rumah dina memakai AC. Bajunya yang berkeringat ia kibas-kibas supaya kering selagi ada di rumah dina yang sejuk. Tak hanya itu, kedua matanya memandang ke seluruh isi ruangan yang ada di ruang tamu.

“Bagus juga yaa rumahnya…..” ucap pak joko

Sementara dina pergi ke dapur sembari membawa belanjaan yang ia beli dari supermarket. Belanjaan tersebut ia letakkan begitu saja di meja dapurnya yang teramat bersih karena tadi pagi ia bersihkan. Setelah itu, dina segera membuatkan minuman dingin untuk pak joko yang kepanasan. Ia masukkan sirup jeruk secukupnya ke dua buah gelas. Lalu dia mengambil air dingin di dispenser mliknya dan menuangkannya ke dua buah gelas tadi. Ia aduk-aduk perlahan air jeruk dingin tersebut. Lalu setelah merasa cukup. Ia mengambil nampan, Lekas ia menaruh dua buah gelas air jeruk di atasnya. Kemudian Ia bawa ke ruang tamu untuk dihidangkan buat dirinya sendiri dan pak joko.

“ini pak ada air jeruk buat bapak, ayo diminum. Pasti bapak haus kan?” dia menaruh segelas air jeruk buatannya di atas meja dekat pak joko

“Adduhh ngerepotin kan nih…. terima kasih yaa dina” pak joko tersenyum

“Ah enggak kok pak” sahut dina sembari menaruh segelas air jeruk untuk dirinya.

Kemudian pak joko yang tenggorokannya kering lekas meminum air jeruk buatan dina. Segarnya lelaki itu setelah meminum minuman dingin. Di lain hal, Dina sedang menanti pak joko memulai pembicaraan terlebih dahulu. Ia tak berani terlalu banyak bicara di depan gurunya, takut terkesan cerewet. Setelah meminum seteguk demi seteguk, barulah pak joko memulai pembicaraan.

“Aduh makasih yaa dina, bingung nih bapak balesnya” ucap pak joko ramah

“Iya sama-sama pak. Eh iya, kok bapak sekarang jadi penjaga pintu kereta?” tanya dina penasaran

“Oh itu, ceritanya panjang dina. Bapak sendiri bingung mau mulai dari mana” ucap pak joko menundukkan wajahnya

“Gitu yaa pak” dina terdiam

“Jadi, sekolahan kita itu udah tutup. Pemilik yayasan enggan melanjutkan perkembangan sekolah kita. Alesanya sih katanya yayasan merugi.

Bapak juga kurang tahu kenapa. Nah, Karena sekolah ditutup itulah ujungnya bapak jadi penjaga pintu kereta. Yaahh sebenernya bapak mau ngelamar di sekolahin, tapi hasilnya bapak belum juga diterima. Mau gimana lagi yaa…istri bapakkan udah gak ada. Terlebih bapak gak punya anak. Jadinya bapak butuh banget pekerjaan secepat mungkin. Diambillah pekerjaan ini” terang pak joko kepada dina

“Heem gitu yaa pak” dina mengangguk sembari meminum air jeruknya

“Kamu sendiri di sini dina?” tanya pak joko serius sekali memperhatikan dina dari ujung rambut hingga ujung kaki wanita itu

“Enggak kok pak. Aku udah nikah. Suamiku sekarang lagi ngantor. Pulangnya malam nanti” balas dina memandangi pak joko

“Ohh”

Saat mengobrol dengan dina, pak joko mencuri-curi kesempatan memandangi wanita itu. Dia yang merupakan lelaki normal yang sudah tak memiliki istri terbangun hawa nafsunya ketika melihat dina. Bagaimana tidak, lengan dina yang padat, pahanya yang putih mulus, dan sudah lama ia tidak berhubungan badan dengan wanita, membuat ‘adik kecil’ pak joko terbangun. Gelisahlah pak joko memandangi dina. Sudah berapa kali lelaki berumur itu menggeser-geser posisinya karena si adik di bawah sana memberontak terus. Sedangkan dina tidak tahu apa-apa. Ia malah sungguh kasihan dengan gurunya itu. Hidupnya bergantung pada penghasilan menjaga pintu kereta. Dina jadi merasa banyak berutang budi karena pak joko telah mengajarnya dahulu.

“Dina, bapak balik kerja lagi yaa…gak enak sama temen bapak yang jaga di sana” pamit pak joko

“Ohh yaudah kalo gitu pak..” timpal dina memaklumi

“Terima kasih banyak yaa dina,,, salam buat suamimu” ucap pak joko beranjak berdiri

“Iya pak sama-sama. Nanti aku sampaiin kok”

Pak joko kembali ke tempat kerjanya. Sepanjang perjalanan ia tidak bisa tidak memikirkan dina, muridnya. Gara-gara dina naluri lelakinya yang terkubur semenjak ditinggal sang istri kini bangkit kembali. Dalam pekerjaannya pula ia juga tidak fokus. Beberapa kali temannya mengingatkan supaya fokus dalam bekerja. Apalagi pekerjaan pak joko bukan pekerjaan sembarangan.

“Joko, lu kenape sih? Tadi gak kayak gini. Jadi kelihatan banyak pikiran lu sekarang” ucap teman pak joko melihat pak joko linglung.

Ketika pekerjaannya usai, pak joko kembali ke rumahnya yang dekat daerah ia bekerja juga. Rumah itu tidak terurus, tripleknya banyak yang bolong. Cat temboknya banyak yang terkelupas dan juga sudah ada retakan di temboknya. Wajar saja, penghasilannya sebagai penjaga kereta tidak sebanding ketika ia menjadi guru. Ketika menjadi guru ia mendapat uang lebih yang bisa untuk keperluan mendadak, sedangkan ketika menjadi penjaga kereta buat makan saja dia sudah sangat bersyukur. Malangnya nasib mantan guru itu.

Malam hari di rumahnya, di atas kasur menjelang tidur ia terbayang terus oleh bayangan dina. Setiap mengingat muridnya tersebut, penisnya makin mengeras saja. Ia elus-elus penis yang tak pernah masuk ke lubang vagina wanita itu semenjak istrinya tiada. Semalaman ia terus membayangkan dina dan dina….

“Ohh dinaa…. maukah kamu temenin bapak tidur sayang… bapak pengen mencicipi tubuhmu yang sintal itu sayang. Kamu pasti mau kan? Pasti juga nanti kamu seneng sama kontol bapak yang udah lama gak nyembur peju ini uhhhhh” pak joko ngomong sendirian

1 Komentar on "Dina dan Pak Joko"

Leave a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *