Karena gak Bisa Bayar Hutang

64670 0
post-841684-1427296522_thumb

“Apa..! Mang Taufik mau make adikku! Mau kamu setubuhi adikku!”
“Iya, Gimana? Boleh gak?!”
“Bangsat!!”
“Nanti aku tanyakan dulu adikku, pergi dari sini… Pergi!!”
“Baiklah… Gak apa-apa, tapi ingat saya kasih kamu kesempatan sampai besok siang, kalau kamu gak bisa bayar hutang, kamu harus pergi dari rumah saya!” mang Taufik mengancam Karima sebelum menunggangi motornya lalu pergi, sementara Karima merasa bingung telah mengumpat pada mang Taufik yang telah banyak menolong dirinya sekeluarga. Mang Taufik adalah mantan atasan suaminya. Karima buntu memikirkan cara mendapatkan uang untuk bayar hutang pada mang Taufik.

“Mbak”
“Eh, Resti udah pulang sekolah?,” Karima terkejut saat melihat adik yang berumur 16 tahun muncul tiba-tiba.
“Mbak, tadi Resti denger apa yang mang Taufik inginkan. Mbak, kita turuti saja keinginan si mang Taufik”
“Apa???!! Kamu pengen nurutin keinginan si bajingan itu??”
“Mbak, kita ini orang susah, mau bagaimana lagi. Suami mbak udah mati. Saudara kita yang lain tidak pedulikan nasib kita. Teman yang bisa membantu pun nggak punya. Kita mau tinggal dimana lagi, mbak? Anak mbak juga baru umur 5 bulan, gak akan bisa dia ditinggal sendiri. Bayar kontrakan rumah yang paling murah seginipun kita gak bisa, seenggaknya mang Taufik bisa kasih pinjam kita uang. Bayar kontarakan bisa ngutang.”
“Mbak malu kalau orang lain tahu Resti jual diri ke si mang Taufik. Mau disimpan dimana muka mbak nantinya? Resti juga nanti akan menyesal.”
“Kalaupun orang lain tahu, Resti gak akan nyesel kok Mbak. Lebih baik daripada kita terus hidup susah.”
“Jangan bilang gitu Resti… Jangan ngomong macem-macem” Karima lalu memeluk badan adiknya, perasaannya campur aduk antara menyerahkan adiknya pada mang Taufik atau hidup melarat. Sebagian dirinya berat menggadaikan adik satu-satunya tapi sebagian yang lain merasa lega dengan kerelaan Resti menyerahkan diri hingga Karima merasa serba salah.

Besok harinya, seperti yang dijanjikan. Mang Taufik datang lagi sementara Karima terlihat sudah menunggu dengan perasaan berkecamuk.
“Gimana… Karima, udah ada uangnya?”
“Masuk rumah saya dulu, mang…” Karima mengajak mang Taufik masuk tanpa menjawab pertanyaan yang terlontar. Lelaki berusia 40 tahunan itu tidak berkata apa-apa. Dia mengikuti Karima masuk sambil perutnya mengusap perut buncitnya yang kenyang setelah makan siang. Saat masuk, mata mang Taufik mengitari ruangan sempit itu sementara Karima menggendong anaknya sambil membelakangi mang Taufik lalu menyusui bayinya.

Mata mang Taufik melihat dua buah kasur kusam di atas lantai sebelah kirinya, luas sepasang kasur sudah hampir seperempat luas ruangan ini, lalu matanya mengarah ke kamar mandi mencari Resti, tapi Resti tak ada disana. Karima udah punya uang, pikir mang Taufik agak kecewa.

“Mang Taufik duduk dulu sebentar, saya mau nyusuin anak saya dulu.” pinta Karima lembut, mang Taufik hanya menurut. Beberapa saat setelah mang Taufik duduk, Resti muncul di depan pintu berseragam sekolah putih abu-abu. Mang Taufik memperhatikan tubuh Resti yang berseragam sekolah itu, buah dadanya kecil tapi terlihat montok. Saat sadar mang Taufik mempelototi buah dadanya, Resti segera masuk rumah menyimpan tasnya, perasaan Resti mulai berdebar-debar.

Resti dan mbaknya saling bertatapan beberapa saat. Masing-masing seolah paham apa tugasnya kemudian.
“Resti… Mbak keluar dulu… ya” Karima mencium pipi Resti lalu menuju pintu menggendong bayinya, sementara mang Taufik tersenyum. Akhirnya dia tahu kalau Karima belum dapatkan uang bayar hutang.

“Bentar mbak, kalau mbak keluar nanti, apa kata orang kalau saya cuma berduaan di rumah sama mang Taufik?”
“Benar juga. Gimana dong mang Taufik sekarang? Kalau saya keluar orang tau kalian cuma berdua disini saya akan sangat malu”
Mang Taufik lantas berpikir, “Gak apa kok Karima disini saja dalam rumah. Saya dan Resti tetap akan melakukannya.”

Kemudian Resti dan Mbaknya saling bertatapan, lalu Resti mengangguk seolah meminta Karima menyetujui usulan mang Taufik.
“Kalau Restinya mau, mbak sih ikut aja. Tapi pintu rumah saya buka dikit, biar orang gak terlalu curiga.”
“Baiklah, tak masalah. Kalau semua sudah setuju, mang Taufik mau buka baju sekarang.” kata mang Taufik sambil melepas bajunya didepan kedua perempuan itu tanpa rasa malu. Karima segera mengalihkan pandangannya dari mang Taufik saat sudah bugil tanpa sehelai benangpun. Resti juga memejamkan matanya.

“Resti jangan malu… lihat sini burung mang Taufik. Buka dong matanya, ya…”
Resti membuka mata, lemas dengkulnya melihat mang Taufik yang gempal dipenuhi banyak bulu di sekujur badannya menghampirinya sedangkan batang penisnya yang separuh tegang mengangguk-angguk saat bergerak.
“Gitu dong, Resti… jangan malu lihat kontol mamang. Resti tiduran di atas kasur yah…” mang Taufik lalu menyibakan rok sekolah Resti ke atas pinggangnya hingga memperlihatkan udel dan celana dalamnya yang agak belel.

“Cangcut Resti udah lama nih, lusuh… Kalo Resti nurut ke mamang, nanti mang Taufik kasih uang bukan cuma buat beli cangcut tapi barang-barang lainnya. Sekarang Resti bukain cangcutnya Resti.” Resti melepaskan celana dalam yang dipakai dengan berdebar dan sangat malu.
“Wah… Resti masih kecil tapi udah banyak jembutnya. Kalo gundul bagus loh Res… Tapi gak papa, memeknya Resti tetep cantik… mmmm cakep banget liat Resti malu-malu, sekarang mamang ingin Resti semakin malu, coba kakinya Resti dikangkangin” setelah kedua kaki terbuka lebar mengangkang, badan mang Taufik segera berlutut diantara kangkangan Resti. Jemarinya yang kasar lalu meraba kemaluan Resti dengan rakus dan bernafsu.

“Pelan dikit mang Taufik… Sakitt…” Resti yang sedari tadi membisu mulai bersuara.
“Sakit apanya?”
“Punya Resti… sakit, tolong jangan dicengkram gitu…”
“Di bagian mananya? Memek Resti kan banyak bagian-bagiannya.”
“Resti gak tau…”
“Ooo.. gak tahu… Gak papa, nanti juga Resti tau kok.”
“Mang Taufik!!!.. sakit… sakit…!”
“Sekarang mananya yang sakit?”
“Punya Resti sakit!!!” Resti ingin berteriak tapi tak ingin didengar oleh tetangganya.
“Mamang tahu… tapi bilang dong apanya yang sakit…?”
“itunya Resti… Itilnya Resti…” jawab Resti dengan pelan bercampur malu.
“Apanya.. mang Taufik gak denger…?”
“Memek Resti sakit… mang Taufik! Itil Resti sakit..! Mamang jangan kasar ngegosok itil Resti. Sakit!!! Tau nggak..!!” Resti menghardik mang Taufik. Rasa malunya semakin berkurang.

“Resti.. Resti… pelanin dikit suaranya… Takut nanti orang dengar”, Karima menghampiri saat mendengar suara Resti agak keras.
“Gitu dong Resti… Saya ingin dengar Resti merintih, tapi pelan-pelan aja”, mang Taufik tertawa melihat Resti marah hingga merintih.

Lalu ia membuka lubang vagina gadis itu selebar-lebarnya. Jarinya dimasukan sedikit demi sedikit ke dalam vagina si gadis dan membuka vaginanya lebih lebar lagi seolah ingin melihat sesuatu dalam vagina gadis itu.
“Waahh.. Resti, mamang bisa liat selaputnya Resti… Untung banyak nih mamang hari ini, dapet lubang masih disegel,” Resti rasanya ingin menendang muka mang Taufik.

“Resti, sekarang mamang mau Resti pegangin burungnya mang Taufik. Terus gosokin kepala burung mamang ke memeknya Resti. Ingat! Resti harus liatin burung mamang ngegosok memeknya Resti”

Walaupun malu bercampur jijik, Resti lalu memegang batang penis mang Taufik dan menggosok helm penisnya pada vaginanya, menuruti perintah mang Taufik menggosok tanpa berhenti. Saat matanya melihat penis mang Taufik, bagian dalam vaginanya memang terangsang dibuatnya, Resti dapat melihat penis mang Taufik semakin membesar. Saat itu Resti dapat membandingkan betapa besar batang kontol mang Taufik dengan lubang memeknya yang masih kecil.

Memerah muka Resti melihat penis mang Taufik yang sangat besar meskipun agak pendek. Risau Resti bila memikirkan lubang kelaminnya akan disesaki benda yang dua kali besarnya dibandingkan lubang vaginanya sendiri.

Tangan mang Taufik menggerayangi kedua buah dada Resti yang terbungkus seragam, sementara Resti masih menggosokkan penis mang Taufik ke vaginanya.

“Resti tahu gak… Makin besar burung mamang, artinya makin terangsang… Resti tahu gak?”

Resti benar-benar jengah mendengar celotehan mang Taufik, begitu juga dengan Karima yang ikut mendengar celoteh mang Taufik. Semakin lama penis mang Taufik menggeseki kemaluan kemaluannya, Resti merasa semakin geli. Resti merasakan secara tidak langsung dirinya terangsang, vaginanya mulai dibasahi pelumas dari dinding vaginanya sehingga kepala penis mang Taufik mulai basah oleh pelumas dari vagina Resti. Dirinya takut mang Taufik menyadari bahwa dirinya telah terangsang. Resti mencoba menahan kemaluannya agar tidak terangsang tapi sulit baginya. Mang Taufik belum memintanya berhenti mengesekkan. Terlebih mang Taufik ingin mendorong kepala penisnya lebih keras pada vagina Resti.

“Udah pinter sekarang Resti… Terus gosok lagi… Enak banget…Resti juga udah terangsang ya..? Air memek Resti udah keluar… Biarin… Jangan malu… Biarin air memek Resti keluar yang banyak… Biar gampang burung mamang nantinya dimasukin ke memek Resti”.
Resti merasa lemas begitu mendengar mang Taufik ingin memasukan penisnya yang besar itu ke dalam vaginanya.

“Sekarang mamang ingin Resti telungkup.” Resti melakukan seperti yang diperintahkan, tidak tahu apa yang ingin diperbuat mang Taufik selanjutnya. Sementara mang Taufik membetulkan posisi Resti sesuai kehendaknya.

“Resti nanti goyang kaya gini ya…” Resti lalu melakukan permintaan mang Taufik.
“Ya… ya bagus seperti itu”, puji mang Taufik.

Karima yang sedari tadi tidak nyaman duduk melihat juga ke arah mang Taufik dan Resti mencari tahu apa yang terjadi. Karima serasa tidak percaya melihat apa yang terjadi, adiknya menungging dengan posisi pantat terangkat. Disaat rok abu-abu adiknya tersibak di pinggang, terlihat lubang dubur adiknya dan bongkahan pantatnya bergoyang-goyang memutar di depan muka mang Taufik. Karima merasa pedih menyaksikan adiknya terpaksa berbuat demikian semata-mata untuk memuaskan nafsu mang Taufik.

“Mang Taufik… Tolong jangan gituin Resti kasian adik saya. Dia pemalu. Jangan disuruh kaya gitu dong, tolong mang Taufik!” bujuk Karima dengan suara pelan dan sendu.
“Gak bisa… dia mesti diginiin biar mamang bisa terangsang!” jawab mang Taufik sambil mencoba membuka dan melihat lubang vagina Resti.
“Gak papa kok, Mbak…Resti gak kenapa-napa, Mbak jangan khawatir…” Resti coba membujuk mbaknya sementara pantatnya tetap bergoyang di depan muka mang Taufik.
“Bagus… Begitu, itu yang mamang pengen liat… Resti cantik jangan malu, goyang yang kenceng…”

Karima akhirnya menerima keputusan Resti dan sadar sia-sia membujuk seseorang yang tengah dilanda nafsu binatangnya.

“Oke.. Cukup… cukup… Burung mamang udah gak tahan lagi pengen masuk ke lubang memeknya Resti, sekarang Resti tidur berbaring lagi,” Resti lalu terbaring, mang Taufik menyimpan dua buah bantal di pawah pantat Resti.
“Siap Resti.. Buka pahanya yang lebar. Mamang tahu tadi Resti lihat burungnya mang Taufik gede kan, lubang memek Resti kecil tapi jangan takut… Burung mamang pernah masuk ke lubang memek yang lebih sempit dari yang punya Resti. Gak apa-apa. Pas pertama masuk… Resti harus tahan sakit”
Resti sendiri bingung mesti merasa lega atau sebaliknya mendengar perkataan mang Taufik.

“Sekarang mamang tempelin kepala burung mang Taufik di lubang memek Resti ini dulu. Mamang tekan dikit-dikit kepala burung mamang biar masuk. Resti coba lihat sini… Lihat burung mamang masuk ke dalam memek Resti.”
Resti hanya berdiam diri, jantungnya berdegeup kencang, matanya melihat ke arah penis yang berwarna hitam. Karima yang ikut mendengar ikut berdebar-debar. Mata Karima ikut mencuri pandang ke ujung kepala penis mang Taufik yang mulai masuki mulut vagina Resti.

Mang Taufik semakin mendorong kedalam hingga membuat mulut lubang vagina Resti ternganga lebar. Mang Taufik terus berusaha memasukan kepala penisnya. Resti mulai merasa kesakitan. Dengan sekali sodokan, kepala penis mang Taufik memasuki vagina Resti. Resti menjerit kecil karena terkejut dengan sodokan tadi berpikir mulut vaginanya akan sobek ditusuk helm penis mang Taufik. Kini kepala penis mang Taufik berada diantara mulut vaginanya dan selaput daranya. Resti merasakan panas dari batang penis mang Taufik dalam posisi itu, dia merasa penis mang Taufik menekan nekan selaput perawannya yang masih belum tersobek. Hanya dengan sedikit dorongan, selaput itu akan pecah terbuka. Rasa sakit dan tidak nyaman mulai dirasakannya.

“Okay, siap Resti… Mamang mau ngedorong burung mang Taufik semakin dalem di memek Resti, coba Resti hitung sampai tiga,. Habis itu mang Taufik mulai masukin yang kenceng. Terus Resti lihat burungnya mamang di memek Resti! Ingat” kata mang Taufik sambil melihat wajah cantik Resti yang semakin sayu.
“Satu…” Resti mulai berhitung sambil matanya terus mlototi batang penis mang Taufik dengan bedebar.
“Dua… Tiga… Aaaarrrgghhh… Sakit.. Mang, Tolong mang Taufikkk… jangan kasar begitu… sakit!!!” Awalnya Resti berusaha menahan agar tidak menangis, tapi merasa tidak berdaya akhirnya dia meringis dan menangis. Namun pandangan matanya tetap terarah pada batang penis mang Taufik yang sedang mencoba memasuki lubang vaginanya. Mang Taufik tidak ambil pusing, dia terus menggenjoti dengan kuat, kasar, sedalam-dalamnya. Sangaja dia ingin membuat Resti kesakitan. Tangisan tak berdaya Resti menambah gairahnya.

Sodokan mang Taufik terhenti saat ujung penisnya terasa mentok. Puaslah hati mang Taufik. Sementara Resti merasakan lubak memeknya begitu sesak terjejali. Panas dari batang kontol mang Taufik terasa membakar seluruh liang kelamin mudanya. Memeknya terasa sakit berdenyut-denyut disaat mang Taufik terus memompakan kontolnya dalam-dalam. Sempitnya liang vagina Resti menambah kenikmatan yang dirasakan mang Taufik. Posisi pantat Resti ditopang bantal lebih tinggi daripada kepalanya membuat gadis itu dapat melihat dengan jelas batang penis mang Taufik keluar masuk dalam liang vaginanya sendiri.

Kira-kira dua menit kemudian, mang Taufik berhenti memompa. Kepala penisnya menekan mulut rahim Resti. Dia memeluk erat tubuh Resti. Resti dapat merasakan seluruh anggota badan mang Taufik yang gempal berbulu berhenti bergerak. Seluruh tubuh mang Taufik tiba-tiba saja menjadi kaku, kemudian vaginanya dapat merasakan pergerakan penis mang Taufik. Kali ini mang Taufik tidak menggenjot, burung mang Taufik terasa semakin mengembang membesar di dalam memek Resti kemudian memeknya merasakan cairan hangat ditembakan dari ujung kepala burung mang Taufik. Lubang memeknya yang sempit itu dipenuhi oleh cairan yang kental.

Untuk beberapa detik, keadaan senyap. Mang Taufik masih memeluk Resti. Resti dapat merasakan penis mang Taufik mulai melembek terutama kepala penisnya yang mulai mengecil. Namun ukuran penis mang Taufik yang memang besar tetap membuat Resti merasakan kelaminnya sesak. Resti mencoba merasa sedikit nyaman dengan diam tak bergerak.

“Karima… Nikmat banget memek adikmu ini…Mamang suka sekali memek sempit seperti ini.” kata mang Taufik sambil melepaskan tubuh Resti yang dirangkulnya sedari tadi. Karima sangat marah dalam hatinya rasanya ingin menendang muka mang Taufik, namun dia tetap menahan emosinya. Dia menoleh ke arah mang Taufik lalu melihat adiknya yang sedang terbaring mengangkang. Karima juga melihat kontol hitam mang Taufik sebagian masih menusuk kemaluan Resti yang putih kemerahan. Sah sudah hilangnya keperawanan adiknya.

Karima benar-benar merasa bersalah karena adiknya nekat memilih disetubuhi mang Taufik. Karima yakin adiknya akan mampu menghadapinya dengan tabah.

“Mang Taufik, hutang saya jadinya bagaimana?”
“Hutang Karima, mamang anggap sudah lunas tapi biaya kontrakan rumah belum beres. Kalau Karima gak mau bayar uang kontrakan, mamang gak apa-apa asal Resti bisa dipakai sama mang Taufik lagi.”

Karima berdiam diri sesaat, dia tidak bisa memutuskannya. Karima menoleh ke arah Resti yang membisu. Resti menganggukan kepalanya tanda menyetujui, menyanggupi vaginanya kembali dijejali penis mang Taufik di lain waktu.
“Mamang tanya aja sendiri ke Resti?” kata Karima.
“Gimana Resti… Mau gak sewaktu-waktu mamang minta memek Resti. Resti ngasih nggak?”
“Iya…” Resti menjawab dengan suara lemah.
“kalau begitu baguslah… Mamang sangat gembira…” kata mang Taufik senang.

Dalam beberapa detik, mang Taufik memandangi seluruh bagian tubuh Resti . Dia membuka kancing seragam putih Resti. Lalu dia usap puting susu Resti dibalik bra kecilnya. Sesekali diremasnya payudara Resti dengan gemas. Jarinya bergerak menuju perut mengarah pada pusar Resti lalu pada selangkangannya.

“Mamang mau lihat lubang kencing Resti.”
“Suka suka lu dah bajinganz…!” maki Resti dalam hati.

Sementara batang penis mang Taufik sedari tadi masih menjejali vagina Resti, mang Taufik coba mengangakan kemaluan Resti sambil mencari-cari lubang kencingnya. Sesekali Resti merasa ngilu pada kemaluannya saat jari mang Taufik mengorek-orekan kemaluannya hanya untuk melihat lubang kencingnya.

“Mamang ketemu nih lubang kencing Resti”. sesaat kemudian lubang memek Resti yang semula telah dipaksa melebar, kembali terbuka melebar menjepit kontol mang Taufik yang ternyata sudak mengeras dan membesar lagi.
“Tahan ya Resti… Burung mamang udah bangun lagi, terangsang sama Resti yang cantik… Lihatin terus burung mang Taufik ya…”
“Apa yang dibanggain sama kontol pendek begitu” maki Karima dalam hati.

Mang Taufik mulai mengocokkan penisnya. Air maninya yang menggenang di dalam vagina Resti memudahkan kocokannya bergerak dengan lancar maju mundur. Mang Taufik terus mengayunkan batang penisnya sambil melihat muka Resti yang sedang menggigit bibir menahan rasa sakit. Namun demikian, Resti tetap melihat pada batang penis mang Taufik yang bergerk keluar masuk dari kewanitaannya. Resti hanya berharap mang Taufik cepat merasa puas seperti tadi hingga penderitaan ini segera selesai. Sudah hampir lima menit, namun tidak ada tanda-tanda mang Taufik akan berejakulasi. Resti merasa cemas dan kecapekan. Kakinya pegal sedari tadi dipaksa mengangkang.

“Mamang… mau keluar nih… mau keluar Resti… Mamang keluarin dalem memeknya Resti… Gak papa kan sayang… Jawab dong Resti, boleh gak…?? Cepat jawab..?”
“Sesuka hati mamang lah… Resti hanya takut hamil…” Resti menjawab dengan lemah. Namun lega saat mang Taufik mengakhiri pergulatan berahi di atas tubuhnya.
“Aaaahhhhh…… Mamang udah keluarin di dalem memeknya Resti. Aaah enak banget. Resti jangan takut, nanti mamang kasih uang… Resti beli obat KB ya.”

Daun Muda nih suhu neng Resti

Tidak ada Komentar on "Karena gak Bisa Bayar Hutang"

Leave a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *