Dibalik Kerudung Tari

8639 1
hqdefault

cersex69 – Seminggu sejak perkosaan itu, Tari tampak lesu. Ia mengaku sakit, tetapi tak tahu sakit apa. Kurayu untuk ke dokter, ia tak mau.
“Sepertinya hanya butuh istirahat,” katanya.
Jalannyapun tertatih-tatih, seperti menahan sakit di sekitar pinggangnya. Kalaukusentuh payudara dan pangkal pahanya, ia pun dengan halus menolak.
Tetapi,Tari memang istri yang baik. Ia mau juga ketika kuminta membantukumasturbasi. Diurutnya penisku dan akhirnya dikulumnya. Aku agaksurprised saat ia membiarkan spermaku tumpah di mulutnya, meskikemudian dimuntahkannya kembali.
“Kok mau menerima spermaku di mulut ?” kataku.
“Nggak sengaja…” katanya dengan wajah bersemu merah.
Akhirnya, di minggu kedua, ia mulai kembali seperti dulu. Ia kembali tampak sehat dan melayaniku kembali di ranjang.
Disaat itulah, tak sengaja aku membuka SMS di seluler Tari. Tertulis disitu, “Mbak Tari, aku kangen mem*k Mbak. Senin jam 12 siang, aku kerumah Mbak pas suami Mbak di kantor. Pakai jubah, jilbab lebar dan kauskaki, tapi jangan pakai celana dalam dan bra. Kita main di ranjangmu ya? -Al”.
“Ini ada SMS, sayang… belum sempat kubaca… perutkumulas…” aku berlagak terburu-buru ke kamar mandi sambil menyerahkanhandphone Tari kepadanya.
Sekitar 10 menit kemudian aku keluar kamar mandi. Kulihat wajah Tari agak pucat.
“SMS dari siapa sayang ?” tanyaku.
“Eh…uh… dari Bu Ani,” jawabnya gelagapan.
“Ada apa ?”
“Uh… katanya… mau ambil uang arisan, Senin siang,”
“Ooo…” aku berlalu, seperti tak ada apa-apa.
***
HariSenin, aku sengaja berangkat kantor agak siang. Pukul 11.30. Tetapitanpa sepengetahuan Tari, kusiapkan handycam di tempat tersembunyi,mengarah ke ranjang. Setting kamera kuatur dengan timer agar mulairecording setengah jam lagi.
Kulihat Tari gelisah dan bolak-balik melirik jam dinding. Ia sudah pakai jilbab putih lebar dan jubah ungu. Cantik sekali.
Kucium pipinya saat berpamitan sambil tanganku meraba bokongnya.
“Eh, kamu nggak pake celana dalam ya ?” kataku, pura-pura kaget, sambil meremas bokongnya yang bundar.
Tari tersenyum kecut. Ia menggeliat-geliat waktu pangkal pahanya kuremas-remas.
“Jangan-jangan kamu juga nggak pakai bra,” kataku.
“Nah, betul kan,” kataku ketika tanganku meraba payudaranya.
Kusingkapkanjilbab lebarnya, lalu kubuka kancing jubah di bagian dadanya. Bibirkulangsung menyerang putingnya. Tari mengerang-erang.
“Maaas…sudaahh… ngantor sana !” katanya dengan nada manja. Tapi kutahu iakhawatir Al datang sebelum aku pergi. Kugigit dengan gemas putingnya.Tari mem*kik kecil.
“Nakal !” katanya.
Akupun berangkat. Tapi di ujung jalan aku berhenti. Tepat pukul 12.00 kulihat mobil Al masuk garasi rumahku.
Handycamku pasti sudah mulai bekerja. Lima belas menit berlalu, kuhubungi nomor handphone Al.
“Sedang di mana Al ?” kataku. Terdengar Al menjawab dengan gugup.
“Di rumah teman, bos,” katanya.
“Maksudmu rumahku, kan ?” Al makin gugup.
“Eh… oh… iya…sorry bos,” katanya.
“OK, nggak apa-apa. Tapi lain kali izin dulu ya Al ?” kataku.
“Iya bos… iya bos…” sahutnya.
“By the way, kont*lmu sudah masuk mem*k istriku belum ?”
“Sudah bos…”
“Bagus, coba tolong kamu jepit putingnya. Aku ingin dengar jeritan istriku,” kataku.
Al patuh. Tak lama kemudian kudengar jerit kesakitan Tari.
“OKAl, silakan kamu perkosa istriku. Di mem*k boleh, anus boleh di mulutjuga boleh. Kamu ikat saja dia di ranjang. Terus kamu kerjain diasampai orgasme berkali-kali. Bye Al.” Kututup telepon, lalu melaju kekantor. Nanti malam, rekaman handycam akan kunikmati.
***
Akupulang tengah malam. Tari membukakan pintu. Kukecup keningnya. Iatampak letih. Tetapi, ia memang istri yang setia. Dibuatkannya akusegelas teh hangat.
“Aku tidur lagi ya, badanku pegal semua,” katanya.
Aku menganggukkan kepala dan kukecup lagi keningnya.
Kutunggusetengah jam. Kutengok Tari betul-betul tertidur pulas. Kuambilhandycam yang kutempatkan di lokasi tersembunyi. Lalu, kubawa ke ruangkerjaku.
Dengan jantung berdebar, kuputar ulang hasil rekaman otomatis tadi siang. Yes, hasilnya sempurna.
5menit pertama hanya terlihat ruangan kamarku yang kosong. Tetapi,kemudian terlihat sosok perempuan berjubah ungu dan jilbab lebar putihberlari diikuti Al.
Perempuan itu, Tari, terdesak di dinding kamar.Terlihat Tari dengan wajah marah berdebat dengan Al yang terustersenyum. Terlihat juga Tari kewalahan menepis tangan nakal Al yangmenjamah pangkal paha dan payudaranya.
Kemudian terlihat Al sepertimarah dan mencekik leher Tari. Setelah itu, Tari sepertinya menyerah.Ia biarkan saja Al memagut bibirnya.
Al lalu menyeret istriku danmenghempaskannya hingga terduduk di tepi ranjang. Tari memalingkanmukanya saat Al berdiri di hadapannya melepas celananya. Al kemudianmemaksanya mengulum penisnya.
Tak lama kemudian, Al mendorong Tarihingga terlentang di ranjang. Lalu disingkapkannya jubah Tari hingga kepinggang. Dengan kasar, ia langsung menancapkan penisnya ke vaginaistriku. Tari terlihat menjerit kesakitan.
Baru beberapa genjotan,Al tampak berbicara di handphonenya. Itu tadi saat aku meneleponnya.Masih sambil menelepon, Al terus menggenjot penisnya keluar masukvagina Tari. Terlihat juga saat Al menjepit puting kanan Tari hingga iamenjerit kesakitan.
Ketika telepon ditutupnya, Al tampak sepertikesetanan. Ia membolak-balik tubuh Tari seperti orangmembanting-banting bantal. Sekali ia membuat Tari terlentang danmemperkosanya. Kali lain, dibuatnya Tari menungging dan iamenyodominya. Kali lain lagi dibuatnya tubuh Tari tertekuk dan iadengan kasar memperkosanya sambil menusukkan jarinya ke anus Tari.Sampai akhirnya kulihat Al orgasme di dalam mulut Tari.
Kulihat Tariterisak-isak. Selesai memuaskan hajatnya, Al mengikat Tari terlentangdengan kedua tangan dan kaki terpentang ke sudut-sudut ranjang.
Alkemudian terlihat menghisap rokoknya sambil berbaring di tengah pahaTari yang mengangkang. Kepalanya berbantalkan paha Tari, di dekatpangkalnya. Sambil merokok, Al membelai-belai vagina Tari. Sesekali, Aldengan nakal mencabuti sehelai rambut kemaluan Tari. Terdengar Tarimem*kik saat Al menjatuhkan abu rokoknya di tempat tumbuhnya rambutkemaluannya.
Al kemudian bangkit dan duduk di sisi Tari. Dibukanyajubah Tari di bagian dada. Kedua payudara istriku tampak membusung.Tari mem*kik lagi waktu Al dua kali menjatuhkan abu rokok di pucukpayudaranya.
Yang terjadi kemudian membuatku terpaksa mengacungkanjempol kepada Al. Lagi-lagi, ia mempermainkan istriku dengan sempurna.Dirangsangnya Tari dengan berbagai cara, hingga istriku yang alim ituberkali-kali orgasme.
Tetapi, Al memang pemerkosa sejati. Di saatTari mencapai kepuasan, ia mulai menyakitinya lagi. Disumpalnya mulutTari dengan celana dalamnya. Lalu, dijepitnya kedua puting Tari denganjepit pakaian. Terlihat dalam rekaman, Tari meronta-ronta dan matanyamelotot. Belum lagi rontaannya berhenti, Al melakukan hal yang samapada klitorisnya.
Al kemudian kembali menindihnya. Suara rintihanTari terdengar sangat memilukan. Juga pekik tertahannya ketika Aldengan kasar menarik lepas jepit pakaian pada kedua putingnya. Takcukup sampai di situ. Mahasiswa fakultas kedokteran itu terusmenyentil-nyentil kedua puting Tari dengan keras.
Al akhirnyaterlihat sampai pada klimaksnya. Kulihat ia mengangkangi wajah Tari,melepas sumpal di mulut Tari dan ganti memasukkan penisnya ke situ.Tubuh Al tampak bergetar sampai akhirnya lemas dan duduk mengangkangiperut istriku.
Tari terbatuk-batuk, sebagian sperma pemuda itukeluar dari sisi bibirnya. Kulihat Al menyapu dengan jarinya danmeratakannya ke seluruh bagian wajah Tari.
Terdengar Tari menangissesenggukan saat Al bangkit dan mengenakan celananya kembali. Kukira Alsudah akan mengakhiri aksinya. Ternyata tidak. Kulihat ia mengambilkamera digital dan memotret istriku yang tengah tak berdaya.
Almembuka lebar-lebar bagian dada jubah istriku. Tari memalingkan wajahketika Al memotret payudaranya yang terbuka dari jarak dekat. Al jugamemotret sambil berdiri dengan sebelah kakinya menginjak sebelahpayudara Tari. Ia juga lakukan itu pada vagina Tari.
Baru setelahitu kulihat ia melepaskan ikatan di tangan dan kaki Tari. Istrikulangsung meringkuk membelakangi Al. Tetapi Al malah menyingkapkanjubahnya sampai ke pinggang. Kulihat ia memotret lagi istriku denganpantatnya yang terbuka. Ia bahkan menguakkan bongkahan pantat Tariuntuk melihat vaginanya dan memotret lagi dengan dua jarinya masuk kevagina Tari.
Aku agak kaget melihat Al kemudian menampar kerassekali pantat Tari. Kulihat Tari sampai mem*kik. Ternyata, itu salamperpisahan dari Al.
Sepuluh menit terakhir rekaman itu hanyalahgambar Tari tiduran meringkuk. Tampaknya ia menangis karena sesekalitubuhnya terlihat berguncang.
Kusimpan hasil rekaman rahasia itu ditempat yang aman. Lalu aku kembali ke kamar. Tari terlihat tidur amatpulas. Posisinya seperti bagian akhir rekaman tadi.
Kusingkapkanbagian bawah dasternya sampai bokongnya yang bundar terlihat. Masihterlihat merah bekas tamparan Al di kulitnya yang mulus. Kusibakkanpantatnya hingga terlihat vaginanya yang tembam.
Sebetulnya, aku ingin menyetubuhinya malam ini. Tetapi, aku kasihan melihatnya kelelahan. Akupun tidur sambil memeluknya.

1 Komentar on "Dibalik Kerudung Tari"

Leave a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *