Bukan Kekasih: Winda

2116 1
cantikz

“Lanjut jangan?” aku berbisik di telinganya yang terhalang oleh kerudung biru muda.

cersex69 – Sepasang mata bulatnya masih setengah terpejam semenjak sedetik lalu, sejak ia menerima ciumanku di bibir lembutnya. Kami sama-sama berusaha mengatur napas. Ia pasti sedang sibuk bertanya-tanya, bagaimana mungkin kami bisa berada dalam adegan ini? Ia telentang di kasurnya, aku telungkup di atasnya, dan kami sama sekali bukan sepasang kekasih.

Dia adalah penggemar rahasiaku, dan dia adalah kekasih sahabatku.

——————————————————————————————

Awalnya, Winda mengundangku ke kampus untuk mengisi acara talkshow mengenai wirausaha. Sebagai alumni, senior, dan wirausahawan muda, aku tidak sanggup menolak undangannya. Apalagi ketika yang meneleponku adalah Galih, pacarnya, sahabatku sendiri.

“Pokoknya usahakan datang, ya. Anggap saja bantu-bantu teman,” kata Galih seminggu sebelumnya.

Akhirnya, pada hari Sabtu itu, aku pun datang ke kampus. Kulihat Winda ada di sana, masih menjadi mahasiswi semester tengah, mengenakan kalung tanda pengenal panitia. Aku menghampirinya. Dia sempat bingung karena tidak mengenaliku, tapi setelah sadar, wajahnya berseri-seri. Ia bilang ia sudah lama mengagumiku, itulah sebabnya ia mengundangku ke acara ini.

“Makasih banyak, Kak, udah mau datang,” ia tersenyum.

Aku baru sadar bahwa Winda ternyata manis sekali. Selama ini aku tidak pernah memperhatikannya. Wajahnya begitu cerah seperti matahari, bibirnya menggoda seperti gula-gula, dan raut wajahnya adalah perpaduan sempurna antara keceriaan dan sikap malu-malu.

Dulu, aku hanya tahu bahwa Galih memiliki pacar seorang mahasiswi junior di kampus kami. Hubungan mereka cukup awet. Beberapa kali aku bertemu Winda saat sedang bersama Galih, tapi baru kali ini aku menatapnya sebagai seorang wanita yang utuh, kecantikan yang berdiri sendiri.

Acara talkshow dimulai. Aku sempat merasa rendah diri karena narasumber lainnya adalah para pengusaha yang jauh lebih sukses dariku. Namun setiap kali aku gagap di atas panggung, Winda akan menoleh ke arahku dan tersenyum, seolah ingin berkata bahwa ia percaya kepadaku.

Setelah acara selesai, aku tidak langsung pulang. Kuperhatikan Winda yang sedang sibuk bersama panitia-panitia lainnya. Ada energi besar yang terkandung di dalam tubuh mungil itu. Ia benar-benar seperti matahari.

“Langsung pulang, Kak?” tanyanya.

“Enggak, santai aja. Emang kamu udah selesai?” balasku sambil bangkit dari kursi.

“Tugasku udah selesai. Mau ngopi-ngopi dulu di kantin? Yuk?”

“Kantin Bang Ijal masih ada?”

“Masih dong!”

Kami pun pergi ke kantin Bang Ijal, tempatku dulu biasa beristirahat setelah kuliah. Kantin itu memang spesial karena tetap buka meskipun hari Sabtu dan Minggu kuliah sedang libur. Aku dan Winda mengobrol tentang banyak hal, terutama tentang kekagumannya padaku. Ia bilang, ia sudah lama memperhatikanku sejak aku masih aktif di organisasi kampus. Baginya, ide-ideku sangat inspiratif, begitu pula dengan tulisan-tulisanku di majalah kampus.

“Wah jangan gitu ah, kalau Galih dengar, bisa-bisa dia cemburu nanti,” candaku.

Winda tertawa geli. “Enggak lah, Kak. Dia bisa bedain antara rasa sayang aku ke dia sebagai pacar, dan rasa kagum aku ke Kakak.”

Setelah menghabiskan kopi, aku sebenarnya berniat untuk pulang. Namun Winda memanggilku kembali. Katanya, ia ingin mengembalikan sebuah buku.

“Buku apa? Memangnya kamu pernah pinjam buku?” tanyaku heran.

“Pernah. Dulu banget. Pinjamnya lewat Mas Galih sih.”

“Ooh….”

Dengan agak terburu-buru, ia membongkar isi tas ranselnya. Tak lama, wajahnya berubah kecewa. Buku itu rupanya tertinggal di kostnya.

“Ya sudah, lain kali aja. Aku juga enggak ingat buku yang mana,” ujarku.

Tapi Winda memaksa. Katanya, ia tidak ingin merasa punya hutang dengan siapa-siapa, terutama denganku yang tinggal di luar kota dan sulit ia temui. Ia sempat menyindirku bahwa aku adalah orang yang sibuk, kapan lagi bisa janjian untuk sekadar mengembalikan buku?

Akhirnya, aku pun mampir ke kostnya. Dari sinilah adegan itu terjadi.

————————————————————————————

Buku itu pada akhirnya hanya tergeletak di sisi tempat tidur. Aku bahkan tidak ingat judulnya. Winda telentang di atas kasurnya, aku telungkup di atasnya, dan kami sama sekali bukan sepasang kekasih. Awalnya kami hanya saling tatap, tidak lebih. Ia mengagumiku, aku terpesona kepadanya, dan bibir kami bertemu. Aku menghisapnya, ia melumatku. Ia melingkarkan tangannya di leherku, aku mendorong pundaknya hingga ia rebah. Usai pertemuan dua bibir itu, ia tak lagi berkata-kata.

“Lanjut jangan?” tanyaku berbisik. “Kalau diam, berarti lanjut.”

Winda masih berusaha mengatur napasnya. Entah dia mendengar pertanyaanku atau tidak.

Aku memberi ultimatum. “Kesempatanmu cuma tidak detik.

Satu ….”

Winda masih diam. Ia ragu-ragu. Ia takut. Ia bingung.

“Dua ….”

Winda menatapku. Napasnya mulai tenang kembali. Aku dapat melihatnya menelan ludah.

“Tiga.”

Winda mengangguk. “Jangan bilang sama Galih,” bisiknya.

Bibir kami kembali bertemu, lebih rekat, lebih erat dari sebelumnya. Tubuh kami semakin merapat dan aku dapat merasakan geliat-geliat hasrat yang meledak dari setiap sendinya.

Adegan selanjutnya adalah adegan yang biasa dalam persetubuhan malu-malu. Napas yang berbisik, kerudung yang berantakan, kancing kemeja yang terlepas satu per satu, celana panjang yang merosot hingga ke mata kaki, serta gesekan dan remasan ke seluruh penjuru tubuh.

Aku baru sadar bahwa Winda ternyata indah sekali. Selama ini aku tidak pernah memperhatikannya. Tubuhnya begitu lembut dalam pelukan, sepasang payudaranya begitu kenyal dalam remasan, dan pinggulnya begitu luwes dalam setiap goyangan. Baru kali ini aku menatapnya sebagai seorang wanita yang utuh, kecantikan yang berdiri sendiri.

–END–

1 Komentar on "Bukan Kekasih: Winda"

Leave a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *