Tante Saya Perawan Tua

79933 1
4157698147_4696413d54_o

cersex69 – Tante Kecilku… Eh ternyata Masih Perawan

Aku baru saja tamat SMA dan aku harus tinggal bersama Tante Kecil aku (adik dari ibuku) di Jawa Timur. Umurku 18 tahun dan suka olahraga lari dan sepakbola. Rajin membantu dan ringan tangan dalam banyak pekerjaan, tidak banyak bicara dan tinggi tubuhnya dalam usia yang muda itu cukup lumayan. 170Cm, sawo matang, rambut lurus dan nilai raport rata-rata delapan. Itulah sebabnya, ayah-ibuku merasa sayang pada aku
Karena orang tuaku tidak mampu menyekolahkan, Tante Kecil yang perawan tua dan sudah berusia 34 tahun, memungutku menjadi anak sendiri untuk disekolahkan, dengan harapan, nanti kalau dia sudah tua dia bisa menumpang pada aku dan rumah serta sawah dan kios kecil di pasar kecamatan yang dua pintu tapi disatukan menjadi milik aku. Ibu dan ayah sangat senang dan bahagia. Pagi-pagi sekali kami sudah bangun kemudian mengerjakan pekerjaan masing-masing lalu sarapan. Mumpung belum masuk sekolah ke kampus, aku ikut ke pasar membantu jualan. Di pasar, Tante Kecil sudah sangat terkenal sebagai grosir jamu dari sebuah perusahaan. Dari kecamatan lain banyak yang membeli jamu produk perusahaan jamu tertua itu ke kiosnya. Walau sudah berusia 34 tahun Tante Kecil kelihatan masih padat dan berisi. Dia selalu mengenakan kebaya pendek, dengan rambut disisir rapi dan disanggul, serta mengenakan kain batik, juga selendang.
Sejak kehadiran aku, dia tidak naik ojek lagi, karena Tante Kecil sudah pula mengkredit sebuah motor untuk nanti aku pakai ke sekolahnya. Tante Kecil sangat senang, karena aku sangat rajin. Pukul 12.00 aku sudah membuka nasi dari rantang dan menaruhnya ke piring dan menyiapkan segalanya, agar Tante Kecilnya makan siang dan aku yang ganti menjaga kios melayani pembeli yang seakan-akan tak pernah habisnya. Pantas setiap sore, Tante Kecil selalu membawa uang yang banyak dalam tas-nya. Tante Kecil tingginya 156 Cm, berkulit putih bersih sedikit kerutan di wajahnya, namun teteknya masih bulat dan padat, serta pantatnya besar dan padat pula. Dia memintaku membawa tas berisi uang dan Tante Kecil naik ke boncengan serta di atas pahanya dia membawa bawaan dalam plastik agak lumayan besar. Pukul 17.20 (berkisar seperti itu setiap hari secara rutin) kami sampai ke rumah yag tak jauh dari pasar. Rumah Tante Kecil persis di pinggiran desa, tersendiri di tepi sawahnya yag baru saja ditanami oleh orang lain. Hasil sawahnya akan dibagi tiga. Dua untuk yang mengerjakan, satu untuk Tante Kecil.
Setelah mandi, Tante Kecil bersiap-siap menyiapkan makan malam kami. Begitu keluar dari kamar mandi, aku terkagum dan sedikit horny melihat tubuh Tante Kecilku. Dengan mengenakan daster mini yang sangat tipis dan tanpa bra, kelihatan remang-remang , pentil teteknya dan kulit perutnya yang putih mulus. aku menelan ludah. Gantian aku memasuki kamar mandi.
Sembari menyiapkan makanan, dia terus melamun. Entah kenapa tiba-tiba Tante Kecil juga sepertinya berpikiran aneh juga, terlebih setelah melihat aku keluar dari kamar mandi hanya memakai celana pendek dan bertelanjang dada. masih muda, tapi kelihatan tubuhku demikian atletis. kami makan berdua di ruang makan di dapur. Tante Kecil kelihatan sengaja melepas dua kancing bagian atas dasternya dan memperlihatkan belahan dada-nya yang putih.
Seperti tidak sengaja, dia mengangkangkan pahanya, sampai pangkal pahan kelihatan dan aku memperhatikannya tanpa kedip. Terlihat dia menggodaku Usai makan, aku langsung mengangkati piring kotor, walau dilarang oleh Tante Kecil.
“Kamu anak yang rajin dan suka membantu.”
“Namanya juga anak, ya harus membantu ibunya. Ibu kan sudah capek,” kata aku yang tidak lagi memanggilnya Tante Kecil, tapi ibu,. Tante Kecil tersenyum manis. Saat aku menjangkau sebuah gelas dan tubuhnya dekat dengan Tante Kecil, Tante Kecil memeluknya dan merangkulku.
“Anak ibu memang rajin dan ibu senang sekali,” katanya mencium pipiku dan memeluk aku
“Orang yang berbakti kepada ibunya pasti akan diberkati,” kata Tante Kecil pula sembari memeluk aku dan buah dadanya menempel di dadaku. Srrrrr… darah aku berdesir akibat tempelan tetek besar yang kenyal itu.
Acara dangdut di TV kami tonton berdua. Dan Tante Kecil menarikku untuk duduk dekat denganya di sofa. Tante Kecil merangkulku dan membelai-belaiaku.
“Sebagai ibu, dia wajib menyusui anaknya. Walau aku tidak memiliki air susu lagi, tapi aku harus menyusuimu, agar kamu sah menjadi anakku,” kata Tante Kecil sembari mengelus kepalaku. aku memejamkan mata dan rambutku dielus-elus dengan kemanjaan. Tante Kecil melepas semua kancing dasternya dan mengeluarkan teteknya.
“Kamu harus netek, dan kamu sah adalah anakku,” kata Tante Kecil menyodorkan teteknya ke mulut aku.
Dengan dada menggemuruh, aku merebahkan kepala di paha Tante Kecil dan Tante Kecil menyodorkan teteknya ke mulutku sembari mengelus-elus rambut ku. Dada Tante Kecil juga menggemuruh keras. Tante Kecil mengarahkan bagaimana cara mengisap tetek dan mempermainkan lidah pada teteknya. Lepas dari satu tetek, dipindahkan ke tetek yang lainnya.
“Ikhhhh… anak ibu memang pintar. Ibu berharap, kamu tetap sehat dan nanti bisa tempat ibu menumpang hidup,” bisik Tante Kecil ke telinga aku.
Tapi desahan nafas bisikan Tante Kecil di telinga aku membua aku semakin gelisah dan bulu kuduknya jadi merinding.
Tangan Tante Kecil mengelus dada aku yang telanjang dan telapak tangan Tante Kecil sengaja dipermainkan pada pentil tetek aku. aku pun sudah tak mampu mengendalikan diri. aku peluk Tante Kecil dan sebelah tetek yang lain diremasnya. aku membuka melepas semua kancing daster Tante Kecil sembari terus menetek dan Tante Kecil ikut membantu, sampai Tante Kecil tinggal memakai CD saja.
Tante Kecilpun nafasnya sudah tidak teratur lagi, lalu melepas celana pendek berkaret bersama CD yang ada di balik celana pendek itu, membuatku sudah telanjang bulat. Aku terus mengusap tetek Tante Kecil, dan Tante Kecil secara perlahan melepas pula CD nya sampai dia juga telanjang bulat, sementara tangannya dengan cepat meraih remote controle mengecilkan suara TV.dituntunnya aku untuk duduk menghadapnya di lantai, kemudian Tante Kecil mengangkangkan kedua kakinya, lalu ditariknya kepala aku sampai rapat ke vaginanya. kulihat vaginanya ditutupi bulu keriting yang menumbuhi bagian bawah pusar Tante Kecil. Sementara bibir vaginanya tampak bagai garis kehitaman. Ohh indahnya.. penisku yang sudah tegang sedari tadi.
“Walau kamu belum pernah saya lahirkan, anggaplah ini kelahiranmu. Kamu lahir tanpa sehelai benang pun juga,” bisik Tante Kecil .
Mulut ku dirapatkannya ke vaginanya dan dia minta untuk menjilati vaginanya.
“Sebagai ganti kelahiranmu, karena kamu tak mungkin lagi masuk ke dalam perutku, maka biarlah lidahmu menyentuhnya….” kata Tante Kecil.
Aku mulai memainkan jari-jariku menyibakkan bulu-bulu membuka bibir vaginanya lalu kucium dan kujilat-jilat.. biar agak bau tapi rasanya enaakk sekali.. terus kujilat-jilat sampai puas.. kurasakan tubuh Tante Kecil sedikit bergerak-gerak.. tapi aku tak peduli lagi.. akuu takk tahann lagii., dibagian tengah vagina agak keatas vaginanya ada daging agak keras seperti kacang lalu kujilati itu
“ya trus pas itu kamu isep” langsung ku hisap dan tahu tahu aku merasakan sesuatu yang agak basah dan bau yang aneh. dia tampak menggoyang-goyangkan kepalanya dan pantatnya mulai goyang-goyang juga.. Cairan yang keluar dari vaginanya makin banyak saja.. dan makin licin.. Tante Kecil pun turun ke karpet dan menelentangkan dirinya, lalu ditariknya aku menindih tubuhnya dan menuntun penisku menelusup ke dalam liang vaginanya.
“Huuuhhhh…” hangat terasa penis aku memasuki vagina Tante Kecil
Secara refleks aku mulai menggoyang penisku di dalam liang Tante Kecil dan Tante Kecil memberi respons dengan ikut bergoyang mengikuti irama. Tidak lama, kamipun berpelukan erat dengan nafas sama-sama memburu dan Tante Kecil memeluk aku semakin kuat dan menbelit tubuhnya dengan kedua kakinya, lalu Tante Kecil mendesah…
“anakku…. hayo sirami ibumu ini sayang, sebagai tanda kelahiranmu. Hayooo…. “
ku merasa ada sesuatu yang akan keluar dari penisku .. aku semakin keras mengocok penisku di dalam vaginanya..aku merasa helm kepalaku agak panas dan sret-sret.. ada sesuatu keluar dari penisku.. crot crot aku merasa nikmat banget.. aku tekan keras-keras penisku di dalam vaginanya.. dan Tante Kecil pun mencapai orgasmenya dan penisku mulai melembek.. dan aku ter baring disamping nya dan dia nampak tergelak.. lunglai di sebelahku.
“Hayo cepat bangun, udah kesiangan… bangun…bangunnn…” Tante Kecil membangunkan aku.
Matahari sudah menyelusup dari kisi-kisi jendela. Dan aku terbangun. Saat kubuka mata, yang pertama ku lihat Tante Kecil masih telanjang bulat. Saat dia lihat tubuhnya, dia juga telanjang bulat.
Tante Kecil pun memakai dasternya, tanpa CD dan Bra lalu dia keluar kamar dan terus ke kamar mandi. Saat keluar kamar dia setengah berteriak, cepat bangun ayo kita mandi, nanti keburu pelanggan kita pada pulang. aku pun bangkit dan dengan telanjang dan langsung menghambur ke kamar mandi.
Saat dia masuk ke kamar mandi yang pintunya tidak ditutup, sudah beberape kali siraman air sejuk ke tubuh Tante Kecil dan air itu terpercik ke tubuh aku. Dingin.
“Sini dekat, Biar ibu mandikan kamu. Dasar malas mandi kamu…” kata Tante Kecil seperti berkata kepada anak berusia 4 tahun dengan manja. Aku senang diperlakukan seperti itu. aku pun jongkok lalu disirami air sejuk mulai dari ubun-ubunnya. Disabuni pakai sabun mandi yang wangi, lalu Tante Kecil menyirami dan menyabuni tubuhnya sendiri. Berdua kami mandi di kamar mandi dengan telanjang, lalu mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Berdua pula kami masuk kamar dan berpakaian.
“Kita beli saja sarapan di pasar. Ayo cepat, kata Tante Kecil. aku berpakaian cepat dan bersisir, lalu menyalakan sepeda motor China memanaskan mesinnya, sedang Tante Kecil mengenakan kebaya dan kain batiknya. Tergesa-gesa tentunya.
Benar saja, Kios belum dibuka, pelangan sudah ramai menungu, karena Tante Kecil adalah kios terbesar di kecamatan itu menjual jamu secara lengkap. Sebuah mobil y ang membawa jamu dari ibukota provinsi juga sudah menunggu. aku membuka kios sembari menyusuni yang penting disusun, Tante Kecil mulai melayani pembeli sedang mobil pembawa jamu orderan, harus sabar menunggu.
“Kenapa lama sekali hari ini?” Salah seoprang pelanggan yang merasa lama menunggu memberikan teguran halus, walau teguran itu disampaikan dengan senyum manis.
“Kayak pengantin baru aja,” yang lain nyeletuk.
“Iya tuh.. wajahnya hari ini cerah sekali, seperti remaja tinting yang baru dapat pacar,” seorang pelanggan lain menimpali. Walau wajah Tante Kecil bersemu merah, dia tersenyum saja.
“Sabar… sabar…” hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Apakah jawabannya itu ada relevansinya dengan celoteh pelangannya dia sendiri enggak tau. Usai menyusun yang penting, aku membeli sarapan ke kedai tak jauh dari tempat kami dan sarapan sendiri, lalu sebungkus dai bawa untuk Tante Kecil, ibunya.
“Ini siapa?” tanya salah seorang pelanggan yang sedikit kagum juga pada kecekatan aku
“Pembantu dapat dari mana?” tanya yang lain.
“Kalau ngomong jangan sembarangan. Itu anakku….” bentak Tante Kecil dengan wajahnya yang tajam pada tatapan. Pelanggan sempat terkesiap mendengar bentakannya. Tapi ada satu pelanggan yang usil dan mengatakan,
” Setahuku, ibu tak pernah menikah, kok tiba-tiba punya anak?” Tante Kecil semakin galak.
“Soal menikah atau tidak, itu urusanku. Tapi yang jelas mulai 3 hari lalu, dia adalah anakku. Mengerti?” bentaknya.

Semua diam. Mereka sadar, soal masalah anak, tak pantas kami mengungkitnya. Setelah semuanya kembali cair, Tante Kecil mengatakan kepada salah seorang pelangan yang tertua dan selama ini dekat dengannya, siapa aku. Aku adalah anak adik kandungnya dan sudah diserahkan kepadanya sebagai anaknya sendiri.
Ibu tua itu menyalami Tante Kecil sembari mengucapkan selamat, semoga menjadi anak yang soleh. akujuga disalami dan dicium oleh ibu tua itu. Palanggan yang lain yang mulanya mau iseng saja, ikut menyalami dengan mengucapkan selamat. Ibu tua itu menyarankan agar dibuatkan kenduri kecil-kecilan agar semua orang tau, Tante Kecil sudah memiliki seorang anak yang ganteng. Semua menyetujui dan Tante Kecil pun langsyung ngomong kalau hari minggu depan hal itu dilaksanakan. Saat itu juga Tante Kecil mengundang kami semua. Ibu tua itu pun menngumbar kata,
“Tuh… rupanya sudah direncanakan mingu depan buat kenduri kecil-kecilan dan dia akan mengundang kita semua. Makanya, kita tak seharusnya asal ngomong,” katanya.
Pelanggan yang lain pun memohon maaf atas kelancangan kami. Dan minggu depannya, acara kenduri itu pun dilaksanakan, tetangga semua diundang dan pelanggan juga. Usai acara kenduri aku dan Tante Kecil kelelahan. Cepat kami tidur. Hanya satu malam saja aku tidur di kamarnya yang sudah disediakan. Setalah itu, kami pernah tidur di karvet sampai bangun kesiangan, kemudian dan seterusnya kami tidur di kamar Tante Kecil.
Begitu pintu tertutup, Tante Kecil melepas pakaiannya sampai bugil dan meletakkan dasternya pada sebuah paku di sisi ranjang. Aku juga demikian dan kami masuk ke dalam selimut. Di antara kami tak ada pernah keluar kata-kata malam ini kita main yuk atau kata-kata apa saja. Bahasa tubuh keduanya kami sudah bisa saling mengerti.
Aku membuka sedikit selimut dan mulutnya langsung mengisap tetek Tante Kecil dan sebelah tanganya mengelus-elus vagina Tante Kecil dengan bulunya yang selalu terawat rapi. Saat itu juga walau terasa agak letih Tante Kecil tatap memberinya respons, kami saling mengelus, merangkul dan melepaskan nikmat kami dengan gairah yang luar biasa.
Semua orang kagum pada Tante Kecil yang memiliki anak ganteng dan semakin ganteng saja dengan pakaian rapi seperti Tante Kecil, dan rajin membantu. Tak percuma Tante Kecil mendapatkan anak seperti aku yang rajin dan penuh sopan santun. Tante Kecil juga bangga sekali jika orang-orang memujinya. Terutama orang sedesanya yang mengetahui siapa aku dan mengenal siapa orangtua aku, kami menghargai keberadaan aku.
Setahun sudah aku bersama Tante Kecil. aku semakin ganteng, tidak terjemur matahari lagi, makan teratur dan pakaiannya bagus-bagus, serasi dengan tubuhnya. Kini kelihatan aku semakin tinggi dan berotot. suatu hari karena ada acara di kampus aku tidak dapat menjemput Tante Kecil ke pasar. aku pulang jam 3 sore kok Tante Kecil belum pulang aku langsung bertanya pada tetangga katanya Tante Kecil kecelakaan dan dirawat di rs di kotaku.aku sampai disana sekitar jam 4sore langsung kutemui Tante Kecil dia masih dalam keadaan tidak sadar. Langsung kuhububgi ibuku memberitahukan bahwa Tante Kecil kecelakaan. Sekitar jam 6 malam ibuku datang tanpa bapak .
“Lho bu bapak mana?”
“Bapakmu merantau dikota jadi dia tidak bisa datang,gimana keadaan Tante Kecilmu?”
“Sudah sadar bu tapi masih belum boleh dijenguk”.
kamipun bergiliran dalam menjaga Tante Kecil. kalau pagi aku pergi ke pasar sedangkan kalau malam aku yang menunggu . sedangkan ibuku pergi ke rumah Tante Kecil aku tidak kuliah karena lebih mementingkancari duit untuk kesembuhan Tante Kecil. sekitar 2 hari setelah kejadian Tante Kecil sudah dipindah diruang rawat inap malamnya sekitar jam 8malam aku pamit ke Tante Kecil mau ambil pakaian soalnya pakaian kami tinggal sedikit entar aku balik lagi kesini.

1 Komentar on "Tante Saya Perawan Tua"

Leave a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *